Headlines News :
Home » » Buku Hitam Sepakbola

Buku Hitam Sepakbola

Written By afdhal tuinktuink on Wednesday, May 30, 2012 | 1:07 PM


"Football for Hope" dan "Football for Peace". Pesan inilah yang saya gadang-gadangkan dari sepak bola.
Ketika seorang tentara berpamitan kepada istrinya untuk pergi berperang karena tugas negara, sang istri punya tiga pemikiran.
Pertama, suaminya pulang dengan selamat. Yang kedua, sang kekasih kembali ke rumah dengan kondisi cacat. Pemikiran ketiga, yang akan membuat tidur si istri tak bisa nyenyak selama kekasihnya bertugas, adalah menerima kabar duka dari kesatuan suami.
"Perang memang terkadang diperlukan. Tapi tak peduli seberapa pentingnya, perang akan selalu menjadi sebuah kejahatan, tak pernah baik. Kita tidak akan pernah belajar bagaimana hidup dalam damai bila membunuh orang lain dan anak-anak."
Siapa yang membantah ucapan Jimmy Carter, Presiden Amerika Serikat yang ke-39, soal peperangan?
Perang membuat istri kehilang­an suami, anak tak lagi memiliki orang tua atau sebaliknya, dan kakak-beradik yang hanya bisa ber­temu dalam kenangan dan foto.
Lalu, di mana letak per­damaian sepak bola ketika dalam sebuah pertandingan harus memakan korban puluhan nyawa? Apakah sepak bola sudah berubah fungsi menjadi medan perang atau senjata pemusnah massal?
Berulang kali saya mengambil contoh bagaimana sepak bola begitu ampuh dijadikan alat per­damaian, menyembuhkan luka akibat perang, atau mendukung korban bencana alam.
Tidakkah pelajaran yang ditunjuk­kan Nelson Mandela atau Mahatma Gandhi membuat kita menjadi manusia yang lebih baik?
Republik Demokratik Kongo memakai sepak bola untuk menyatukan bangsa mereka yang porak-poranda akibat perang saudara.
Anak-anak Arab di lingkungan Israel bisa menyatu dengan rekan-rekannya yang Yahudi melalui sepak bola. Pada hari pertandingan, orang tua serta keluarga dari kelompok yang berbeda keyakinan dan sikap ini bisa duduk mendukung putra mereka tanpa memikirkan peperangan.
Sebanyak 74 nyawa yang hilang saat pertandingan Al-Masry Sporting Club menjamu Al-Ahly di Liga Mesir, Rabu (1/2), seolah tak cukup. Dua hari kemudian, dua warga Mesir dikabarkan mening­gal terkena tembakan polisi dalam sebuah aksi protes di Kota Suez.
Prediden FIFA, Joseph Blatter, menyebut hari pertama di Februari 2012 itu sebagai hari hitam untuk sepak bola. "Saya sangat terkejut dan sedih malam ini. Sungguh bencana yang tak terbayangkan dan tidak seharusnya terjadi," kata Blatter.
Terlepas dari kabarnya kubu Al-Ahly mendukung kejatuhan Presiden Hosni Mubarak pada 11 Februari 2011, tak ada alasan mengorbankan nyawa orang lain dengan memakai sepak bola sebagai "senjata pembunuh".
Bila ingin menarik perhatian dunia, merancang strategi kerusuhan yang melibatkan Al-Ahly memang tepat. Al-Ahly adalah klub terbesar dan terpopuler di Mesir asal Kota Kairo. Tahun 2000, Federasi Sepak Bola Afrika (CAF) menobat­kan klub ini sebagai “African Club of The Century”.
Sungguh tak masuk akal pen­dukung tuan rumah menyer­bu pemain dan pendukung lawan ketika timnya menang 3-1. Lebih tak masuk akal lagi, petugas keamanan dan polisi yang berada di dalam stadion membiarkan pendukung Al-Masry masuk ke lapangan serta mengejar pemain dan suporter Al-Ahli.
Teori lain mengatakan, pemerin­tah Mesir adalah otak di balik kebiadaban di Stadion Port Said itu. Mereka ingin membentuk opini bahwa pendukung Hosni Mubarak ingin membalas dendam.
Teman kuliah saya yang kini tinggal di Kairo, Mesir, menyebut kerusuhan memang sudah dipersiapkan kelompok tertentu.
"Rasanya ada hubungan dengan politik karena besok akan ada election wakil rakyat," begitu jawabannya ketika saya bertanya melalui Facebook saat kerusuhan berlangsung.
Menurut Ifa, begitu namanya, kerusuhan yang melibatkan Al-Ahly biasanya bila mereka ber­temu musuh bebuyutan, Zamalek SC. "Tapi aneh, banyak pendukung Al-Masry bebas mem­bawa petasan, pentungan, dan alat-alat terlarang lainnya masuk ke dalam stadion," lanjut Ifa.
Sungguh mahal harga yang harus dibayar pencinta sepak bola ketika para politikus ikut bermain dalam strategi pertandingan yang seharusnya menjadi hiburan masyarakat itu.
Tidak bolehkah sepak bola mengubur buku sejarah kelam usai Tragedi Heysel di Brussel, Belgia, tahun 1985, dan Bencana Hillsborough di Kota Sheffield pada April 1989?
Duel final Piala Champion 1985 antara Juventus dan Liverpool memakan korban 39 nyawa pendukung Juventus dan sekitar 600 orang cedera. Buntutnya, klub-klub Inggris dilarang mengikuti kompetisi Eropa selama lima tahun. Khusus Liverpool hukuman itu menjadi enam tahun.
Kerusuhan di semifinal Piala FA antara Liverpool dan Nottingham Forest meminta nyawa manusia sebanyak 94 orang, dari usia 10 hingga 67 tahun.
Jon-Paul Gilhooley, sepupu kapten FC Liverpool, Steven Gerrard, merupakan korban termuda (10 tahun) dari tragedi ini. Kepergian Jon menjadi inspirasi Stevie G untuk meraih puncak karier dalam sepak bola. Gerrard ingin sepupunya itu bangga melihatnya bermain football dari surga.
Kerusuhan ini juga membuat sekitar 700 penonton di dalam stadion mengalami luka-luka dan lebih dari 30 orang di luar stadion bernasib serupa.
Bagaimana dengan korban trauma? Pasti jumlahnya ribuan. Lalu, kapan kita memakai sepak bola sebagai alat perdamaian? #


Weshley Hutagalung
 ++ Dimuat di Weekend Story, BOLA Sabtu 4 Februari 2012 ++
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Nanggroe Corner - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template