Headlines News :
Home » , , » Sesuatu Yang Telah Hilang di Balik Revolusi PSSI

Sesuatu Yang Telah Hilang di Balik Revolusi PSSI

Written By Ops Channel on Thursday, November 3, 2011 | 7:33 PM

1320233610418262032
Akhirnya saya harus percaya bahwa bangsa ini sepertinya memang bangsa yang pelupa. Rasanya baru  100 hari lamanya ketika ribuan supporter Indonesia dan para pecinta sepakbola di seluruh penjuru tanah air turun ke jalan menyerukan Revolusi PSSI untuk menurunkan rezim TRIO N. Pemerintah, KONI, DPR, LSM dan supporter pun bahu-membahu beramai-ramai mendukung revolusi PSSI tersebut. Hingga akhirnya gema Revolusi PSSI pun sampai ke markas besar FIFA di Swiss. Namun bagi rezim Trio N sepertinya amat sangat berat melepaskan tahta kekuasaan PSSI yang telah lama digenggamnya. Mereka tetap gigih memperjuangkan kekuasaannya tersebut dengan berbagai cara. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa PSSI adalah bisnis lezat bagi mereka. Melalui PSSI mereka berkesempatan untuk melakukan politisasi, seperti kita lihat kunjungan Alfred Riedl dan Timnas AFF ke rumah salah seorang ketua partai besar. Melalui PSSI, mereka juga mampu mengeruk uang rakyat melalui APBD dengan tameng sepakbola. Dan masih banyak “bisnis gelap” yang sangat sulit dibuktikan tapi terdengar nyaring dikalangan pecinta sepakbola tanah air seperti perjudian, pengaturan skor pertandingan, mafia wasit dll.
Akhirnya ketika mereka telah menyadari betapa besarnya kekuatan yang mendorong revolusi PSSI, mereka pun mulai menyusun strategi pengamanan, pertahanan lengkap dengan rencana serangan baliknya. Di mulai dari acara jalan-jalan keliling Eropa beserta para pengurus dan pemilik suara PSSI, kemudian dilanjutkan dengan acara wisata dan makan-makan bersama di sebuah resort milik salah seorang pengurus PSSI di Bali yang kemudian mereka klaim sebagai Kongres Bali. Tak ketinggalan mereka pun gencar mengancam para revolusioner PSSI dan para pecinta sepakbola dengan senjata “SANKSI FIFA”. Melaui 2 media TV dan 2 media online yang merupakan corong rezim Trio N, mereka menakut-nakuti pecinta sepakbola dengan ancaman Sanksi FIFA. Para pemirsa dua media TV tersebut digiring opinya agar melawan dan menghentikan revolusi PSSI agar terhindar dari Sanksi FIFA. Selalu saja mereka mendengungkan Sanksi FIFA….Sanksi FIFA….dan Sanksi FIFA…..
Walaupun akhirnya SANKSI FIFA tidak pernah tiba, melalui media corong tersebut mereka tetap gencar menghadirkan narasumber-narasumber yang pro rezim dan kontra revolusi PSSI. Dan tak lupa pula mereka pun menyiapkan sekoci penyelamatan dan penyusupan “orang-orangnya” ke gerbong revolusioner.
Tapi mereka lupa bahwa supporter dan para pecinta sepakbola Indonesia lebih cerdas dan mampu membedakan mana revolusioner PSSI dan mana anti-revolusioner. Hingga akhirnya rezim Trio N pun dapat di tumbangkan oleh kekuatan revolusiner.
Namun rupanya meskipun Revolusi PSSI telah menang, pertarungan kekuasaan di PSSI belum juga usai, karena rezim yang telah tumbang kini dengan segala cara mencoba melancarkan serangan balik yang bergelombang. Melalui orang-orang yang diduga telah “disusupkan” sebelumnya, mereka mulai “menggoyang” PSSI hasil revolusi dari dalam. Lihatlah bagaimana kiprah dan tingkah polah La Nyalla Mahmud Mattaliti (LNMM) yang masih memiliki hubungan saudara dengan Andi Darussalam Tabusala (ADT), begitu gencarnya menyerang Ketua Umum PSSI Prof Djohar Arifin lewat lontaran-lontaran statemen yang menyeruak menggugat segala kebijakan yang diambil PSSI.
13202336601504782471
Sepertinya kita lupa bahwa LNMM masuk ke gerbong Revolusi PSSI pada detik-detik terakhir dan terpilih menjadi anggota exco melalui KLB di Solo. Kemudian sikapnya yang berubah 180 derajat itulah dan ditambah dengan status dan jabatannya ini patut dipertanyakan motif apa sebenarnya dibalik semua itu sehingga rela menohok kepengurusan PSSI yang seharusnya notabene adalah kawan seperjuangannya. Sebagai pendompleng Revolusi PSSI seharusnya LNMM mampu menjunjung etika berorganisasi dengan melakukan koordinasi ke dalam, memahami struktur organisasi hingga job description seorang pengurus hasil revolusi. Sekali lagi saya tekankan PENGURUS PSSI HASIL REVOLUSI.
Perlu diingat dan dicamkan dalam-dalam oleh kita yang pelupa bahwa PSSI dibawah Prof Djohar Arifin adalah PSSI yang lahir dari hasil sebuah REVOLUSI. Sebagai buah REVOLUSI tentu membutuhkan dukungan yang besar dari seluruh pengurus, supporter dan pecinta sepakbola untuk merobohkan dan meruntuhkan tembok besar yang telah dipasang dengan “SENGAJA” oleh rezim terdahulu yang menghambat prestasi sepakbola nasional. Prof Djohar Arifin adalah  adalah tokoh non-parpol dan bukan politisi.  Prof Djohar Arifin adalah mantan pemain dan mantan wasit yang sangat paham tentang seluk beluk sepakbola sehingga telah menumbuhkan harapan-harapan akan adanya perbaikan kinerja dan peningkatan prestasi sepakbola Indonesia baik nasional maupun internasional secara bertahap. Untuk mendukung dan merealisasikan harapan besar suporter dan pecinta sepakbola Indonesia, Prof Djohar Arifin pun berusaha bijak dengan melakukan REKONSILIASI dan merangkul semua pihak baik dari ISL maupun LPI untuk berkompetisi bersama di bawah naungan PSSI sesuai amanat FIFA.
Namun serangan bergelombang dan bertubi-tubi dari orang-orang rezim sebelumnya lewat berbagai media yang dikuasainya telah mengganggu perjalanan gerbong revolusi. Bagaikan petir disiang bolong seorang LNMM berteriak lantang seperti pahlawan revolusi yang kesiangan, menunjukkan pada publik pecinta sepakbola tentang ketidaksolidan kepengurusan PSSI dibawah Prof Djohar Arifin selama ini.
Lalu pertanyaanya adalah : ada apa dibalik semua ”nyanyian” LNMM itu? benarkah teriakan-teriakan itu hanya sebatas beda pendapat dari seorang LNMM? atau adakah pesanan khusus dari kekuatan besar dibaliknya yang mencoba kembali masuk dalam struktural kepengurusan PSSI dan “MEMBAJAKNYA” untuk kepentingan 2014. Entahlah, yang saya tahu LNMM adalah saudaranya ADT, salah seorang petinggi rezim PSSI yang ditumbangkan oleh gerakan Revolusi PSSI. Dan ADT adalah orang kepercayaan dan tangan kanan salah satu ketua partai besar.
Anda mungkin tahu jawabannya….karena yang saya inginkan cuma melihat sepakbola Indonesia maju tanpa politisasi…
Catatan: Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber, gambar di ambil dari GOOGLE
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Nanggroe Corner - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template