Headlines News :
Home » , » Liga Indonesia, Blunder Ke 2 PSSI

Liga Indonesia, Blunder Ke 2 PSSI

Written By afdhal tuinktuink on Sunday, September 18, 2011 | 9:48 AM

Belum beres menyelesaikan blunder pertama memecat Alfred Riedl secara sepihak, PSSI kembali membuat blunder. Seperti diduga sebelumnya, blunder itu adalah pada penentuan format kompetisi.
Dari awal kepengurusan ini terbentuk sebenarnya saya berharap banyak bisa membawa pencerahan sepakbola kita, tapi sekarang saya jadi ragu. Saya masih percaya dengan niat tulus mereka, tapi saya meragukan kinerja mereka. Mari kita lihat apa saja latar belakang keraguan saya itu. Untuk kali ini saya hanya menyoroti masalah kompetisi.
1. Format Kompetisi Ternyata Sudah Diatur dalam Statuta
Sewaktu anggota Komite Eksekutif PSSI bidang hukum La Nyalla Matalitti berteriak lantang menentang rencana kompetisi dibagi menjadi dua wilayah dengan alasan melanggar statuta PSSI, Djohar Arifin dan Sihar Sitorus dengan percaya diri mengklaim statuta PSSI tidak mengatur tentang pembagian wilayah dalam kompetisi. Tapi seusai rapat Komeks yang semalam (16/9), pernyataan Djohar tiba-tiba berubah dan membenarkan kata La Nyalla. Pertanyaannya, apakah ketua umum dan koordinator kompetisi tidak pernah baca Statuta PSSI? Terlepas dari niat baik mereka dengan membagi menjadi dua wilayah untuk mengurangi beban finansial klub dan baru sebatas rancangan, tapi ini merancang sebuah kompetisi -yang merupakan roh sepakbola- dengan mengabaikan landasan hukum tertinggi (statuta PSSI) adalah blunder yang fatal.
2. Hasil Verifikasi Buat Apa?
Ketika PSSI menjanjikan semua klub berpeluang ikut liga profesional, semua klub ramai-ramai memenuhi persyaratan klub profesional, tanpa membedakan asal mereka dari ISL, Divisi Utama, ataupun Divisi Satu. Semua punya kesempatan yang sama asal lolos verifikasi. Harapan tampil di level tertinggi kompetisi tanah air tiba-tiba menjadi angin surga bagi 76 klub. Klub sekecil PSCS Cilacap yang mungkin baru kali ini terdengar pun tak mau ketinggalan ikut bermimpi. Tapi apa yang terjadi kemudian? PSSI begitu teganya secara tiba-tiba memberangus mimpi mereka! Hasil rapat Komeks semalam yang memutuskan kompetisi tidak ada perubahan sama seperti musim lalu adalah geledek yang merampas mimpi mereka. Entah bagaimana ceritanya pengurus PSSI waktu itu bisa menghembuskan mimpi sorga itu. Sekali lagi, Djohar cs telah melangkah terlalu jauh tanpa perhitungan. Saya tak heran kalau nanti keluar komentar, “Ngapain capek-capek penuhi syarat verifikasi kalau hasilnya balik lagi ke yang lama?!” Dalam hal ini Djohar cs telah sangat mengecewakan mereka. Saya rasa dia sadar betul itu, makanya semalam dia berbelit-belit mengatakan kompetisi tidak ada perubahan. Mungkin dia tahu hasil rapat semalam mengecewakan banyak sekali orang. Malah La Nyalla yang kepo memberitahukan keputusan rapat tentang format kompetisi kepada pers, padahal itu adalah domain Djohar atau Sihar.
3. Operator Liga
Djohar cs beralasan pengurus PT Liga Indonesia belum membuat laporan pertanggungjawaban padahal waktu sudah mepet sehingga didirikan PT Liga Prima Indonesia sebagai operator kompetisi dan mengangkat eks CEO LPI Widjajanto sebagai CEO. Dan sepertinya mereka sudah menyiap nama Liga Prima Indonesia sebagai nama baru liga. Ternyata keberadaan PT Liga Prima ini pun masih bermasalah. Saya tidak tahu bagaimana prosedur pendirian operator liga apakah harus melalui rapat Exco atau tidak. Tapi yang pasti, rapat Exco semalam menganulir keberadaan PT Liga Prima dan mengembalikan operator liga pada PT Liga Indonesia. Tapi konyolnya PT Liga Prima sudah membuat kesepakatan bisnis dengan TV kabel dari Malaysia, Astro untuk menyiarkan liga Indonesia di negeri jiran tersebut. Malah PT Liga Prima sedang melakukan negosiasi dengan beberapa perusahaan global untuk menjadi sponsor liga. Kedua deal ini memang patut diacungi jempol, tapi apa tidak jadi bahan tertawaan mereka kalau ternyata di tengah jalan PT Liga Prima sendiri tidak bisa melanjutkan negosiasi dengan perusahaan global tersebut dan menandatangani ulang kontrak dengan Astro karena PT Liga Prima ternyata bukan pemegang otoritas? Bisa dibilang PT Liga Prima ini adalah perusahaan bodong. Saya malah khawatir mereka akan kabur dan membatalkan kerjasama karena kekonyolan ini. Semestinya kalau belum ada kepastian jangan terburu nafsu melangkah, apalagi ini adalah kesepakatan bisnis yang nilainya milyaran.
4. Pemegang Hak Siar
Suka tidak suka, pemegang hak siar liga Indonesia adalah TV milik Bakrie, ANTV, sampai 6 tahun ke depan. Dan suka tidak suka juga, untuk saat ini ANTV-lah yang menurut saya TV terbaik untuk siaran langsung sepakbola produksi sendiri. Tidak mengherankan karena sejak liga Indonesia pamornya masih sangat redup, merekalah yang dengan setia menyiarkan liga Indonesia sampai akhirnya pamornya naik seperti sekarang. Saya tidak tahu apakah nilai kontrak mereka saat ini masih wajar atau tidak, setidaknya dulu mereka peroleh lewat bidding terbuka. Tapi sepertinya tiap musim kompetisi kesepakatan kontrak bisa ditinjau lagi. Yang ganjil adalah, pemegang hak siar di Malaysia sudah diketahui, yaitu Astro, tapi pemegang hak siar di dalam negeri sendiri malah masih simpang siur. Padahal kelak Astro harus merelay siaran dari TV kita yang memegang hak siar itu. Entah logika apa lagi yang dipakai di sini. Tentu saja seharusnya ditentukan dulu pemegang hak siar di dalam negeri yang akan memproduksi siaran langsung, baru kemudian ekspansi ke luar negeri. Oh iya, untuk masalah pemegang hak siar liga, kalau memang mau bidding ulang, lakukanlah dengan terbuka. Jangan lagi mengulang kesalahan penunjukan pemegang hak siar Timnas. RCTI yang sebelum ini memegang hak siar Timnas merasa dikhianati karena tidak diajak ikut dalam bidding. Dan memang sepertinya tidak pakai bidding, tahu-tahu SCTV yang memegang hak siar karena berani menawarkan kontrak yang lebih besar. Penentuan pemenang bidding seharusnya juga jangan hanya dari nilai kontrak karena SCTV yang berani bayar lebih mahal ternyata siarannya sangat mengecewakan dan mengundang kecaman dari sana-sini.
5. Pengurus Tidak Satu Suara
La Nyalla Matalitti yang bersuara keras menentang pembagian dua wilayah akhirnya menjadi pemenang. Bahkan dengan bangganya dia ‘mengumumkan’ kemenangannya tersebut semalam seusai rapat Exco. Apa yang diperjuangkan olehnya memang benar, segala sesuatu harus sesuai Statuta. Tapi momen dia muncul sangat tidak tepat. Seharusnya dia ngomong tentang ini sebelum verifikasi kepada 76 klub, sebelum Djohar dan Sihar terlanjur melangkah jauh seperti sekarang. Yang pasti, langkah La Nyalla ini sangat mempermalukan Djohar dan Sihar, serta PSSI itu sendiri. Kalau La Nyalla tahu itu pelanggaran Statuta seharusnya dia sejak awal memperingatkan Djohar dan Sihar. Sekarang nasi sudah terlanjur basi, PSSI sudah terlanjur malu. Dari sini sangat mencerminkan kepengurusan PSSI yang sekarang sangat tidak kompak dan solid, karena untuk keputusan-keputusan yang besar saja pengurua tidak satu suara, malah terkesan saling menjatuhkan.
Penetapan format kompetisi tetap satu wilayah di satu sisi adalah blunder bagi Djohar cs karena mengecewakan klub-klub yang sebelumnya dijanjikan angin sorga, tapi di sisi lain inilah pilihan paling adil. Jika sejak awal berpegang pada aturan, tarik ulur format kompetisi seperti sekarang mungkin tidak perlu terjadi dan saat ini sekarang mungkin kita sudah bisa menikmati Liga Indonesia rasa baru yang lebih profesional dan tidak perlu ada yang dikecewakan.
Tulisan ini bukan untuk menghasut agar membenci Djohar cs, melainkan sebuah kritik dari seorang pecinta sepakbola nasional. Saya masih percaya akan niat baik dan dedikasi Djohar cs dalam memajukan sepakbola nasional. Tapi itu semua tidak cukup dan hanya jadi bumerang kalau cara kerjanya acak-acakan dan teledor di sana-sini. Sepakbola Indonesia adalah potensi luar biasa sekaligus bola panas yang harus diurus dengan cermat dan penuh dedikasi. Semoga saja ini bukan pertanda buruk buat persepakbolaan nasional.

oleh :

Sutar Soemitro

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Nanggroe Corner - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template